Kebangkitan NASIONAL di Era Demokrasi dan Degradasi Nilai-Nilai Pancasila
May 28th, 2008 by romeo7055Hmmm…
Dilihat dari judul, sepertinya terlalu berat dan membosankan, tp guys..please have a look, saya tidak akan memberikan perkuliahan Pancasila disini (walau bapak gw guru PPKn). Ini sebatas gurat gelisah seorang pemuda kantoran diantara hiruk pikuk lingkungan Ekspatriat, kesadaran Nasionalisme, dan kemerosotan moral bangsa.
Coba kita tilik kebelakang, seberapa besar dari kita memberikan perhatian yang penuh dengan pendidikan moral di jenjang pendidikan dasar a.k.a PMP (Pendidikan Moral PAncasila) – PPKn (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan) – PKN (Pendidikan Kewarganegaraan – saudara lihat
kan …Pancasilanya dihilangkan…), atau belajar Sejarah Bangsa lewat PSPB. Saya rasa hanya segelintir dari kita yang ingat apa itu Norma, Gotong Royong, dsb. Sejarah yg diingat dan gampang kita hafal hanya Homo Sapiens belaka (kalau anda bukan, bersyukurlah).
Jujur saya bilang, bangsa kita tidak lebih baik atau secara ekstrem tidak pernah mencapai impian yang tertulis di pembukaan UUD 1945.
Pemimpin bangsa atau yang dahulu menyatakan dirinya pembawa amanah suara rakyat tak lebih dari boneka politik dengan dalaman misi partai/golongan dan bualannya selama kampanye hanyalah asesoris yang saat ini ditaruh tergeletak percuma. Mungkin tidak semua pemimpin demikian adanya, tapi satu diantara seribu – apalah artinya?
Banyak oknum yang memegang peran penting dalam pemerintahan baik dalam kebijaksanaan moneter, fiscal, perdagangan, bahkan HUKUM!!! Tergilas oleh KPK. Ini bukan justru mencerminkan bukti bahwa Pemerintah MENEGAKKAN Hukum, tapi secara harfiah justru memberikan pernyataan bahwa – Pemerintah adalah kumpulan criminal. Tak dapat dinyana, beberapa oknum yang merasa terancam langsung kemudian memberikan isu untuk membubarkan KPK.
Kebijakan pemerintah pun tak semuanya memberikan manfaat dan berguna bagi masayarakat terutama kalangan yang tidak mampu. Masih ingatkah saudara isi pasal 33?”Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikelola oleh Pemerintah dan dipergunakan utk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Mungkin isinya sekarang dah berubah dalam tatanan kalimat tp itulah isi Pasal tersebut pada saat saya masih SMA.
Apa yang terjadi sekarang?Ilegal Loging, Privatisasi BUMN yang memegang peran sentral ke pihak asing, Pengolahan kekayaan alam kepada Investor luar. Wah…Mungkin Pemerintah melakukan pembenaran dengan alasan teknologi, SDM, dan menyelamatkan perekonomian. Tapi saudara-saudara, ini justru mencerminkan bangsa kita masih tergantung dengan Negara lain/Pihak luar/Kepentingan Asing dll. Kita belum merdeka. Masih saya ingat materi pelajaran sejarah tentang Presiden
Pertama RI dalam pidatonya BERDIKARI (berdiri di atas kaki sendiri) dan JASMERAH (jangan sekali-kali melupakan sejarah). Dua hal yang tidak terpatri dalam bathin pemimpin-pemimpin kita.
Well, pemimpinnya demikian bagaimana dengan masyarakatnya???Kita pun tak lebih…Yang terlihat sekarang bukan semangat Nasionalisme yang tampak, lebih ke Chauvinisme golongan, kecondongan ke praktek Neo Kolonial, dan nilai hidup dipandang dari materi belaka. Come on anda merasa tersinggung???Masih banyak orang yang membedakan perlakuan terhadap seseorang dengan golongan minoritas diantara lingkungan yang mayoritas. Penghakiman suatu paham tertentu dengan dalih sebagai paham sesat dan mengganggu ketentraman masyarakat, atau perusakan – perusakan sarana prasarana umum. Saya tidak menghakimi atau menyebutkan secara spesifik, tp lebih kepada suatu kenyataan, bahwa bangsa ini sudah semakin pragmatis, terpecah-pecah. Bhinneka Tunggal Ika - Berbeda-beda tetapi tetap satu? => Berbeda-beda dan engga nyatu. Tanya Kenapa???
Kebijakan BLT tak lebih dari tindakan menyuap masyarakat. Menaikkan BBM dengan dalih menyelamatkan ekonomi tak lebih dari solusi jangka pendek. Karena harga minyak fluktuatif (kemana Minyak
Indonesia ???). Apabila pemerintah sadar, bukan dengan mengajak Masyarakat utk mulai hidup sederhana dan mengatur pengeluaran (gw inget banget ada menteri yang bilang begini), Hey!!!Tunjangan mereka sebulan sangat komplit, dr komunikasi, transportasi, rumah dll…dsb dan makin banyak lagi, belum lagi kunjungan kerja ke luar negeri dengan alasan studi banding. Bolehkah kami menuntut hasil dr studi banding tersebut??? Rp.100.000/bulan, wah, jujur…Saya bawa duit segini ga cukup untuk seminggu bagi gw yang ukuran single belum berkeluarga dan tidak punya pacar (tp banyak penggemar!wuakakakakak…. narsis).
Intinya, mari selamatkan perekonomian dengan mengajak para penggede di Istana – di Ruang sidang Dewan – di kantor-kantor kementrian…untuk juga turut mengencangkan ikat pinggang, mengurangi tunjangan!!!!mengurangi pengeluaran jalan-jalan, lebih memikirkan kepentingan masyarakat bukan golongan, dan memahami lebih dalam nilai-nilai Pancasila. Begitu pula kita. Kalau kita tidak berubah…
Indonesia akan hancur, secara perlahan. Tapi melalui momen kebangkitan Nasionalis ini – saya jd inget puisinya Chairil Anwar (one of my faves) – Walau peluru menembus tubuhku – tetap meradang menerjang!!!!Tetap Optimis dan berpegang teguh bahwa yang lebih baik akan datang. Amin. Tetaplah menjadi orang baik. God Bless (Joe)
